Spiritual parenting Pesisme hambatan pendidikan aqidah

Spiritual parenting Pesisme hambatan 

pendidikan aqidah dalam kehidupan 

sehari-hari

 

Seorang anak dibawa ketempat konsultasi saya.anak lelaki kelas 3 sd, orangtua mengeluhkan bahwa anaknya manja belum tumbuh tanggung jawab,akhirnya motivasi belajarnya juga buruk.singkat cerita,orangtuanya yang menjadi pangkal masalah karena cendrung tidak tega pada anak,maka kemudian saya menawarkan beberapa tugas kemandirian yang akan dilakukan anak,seperti mengurus diri sendiri ketika pagi,membereskan baju kotornya merapikan kamarnya, dan beberapa alternative lain. Intinya orangtua tidak boleh membantu atau melayani anak.

Ada satu tugas, yang ditolak oleh sang ibu yaitu biarkan anak berjalan kaki ke tempat parker dan jangan menjemputnya persis di gerbang sekolah.karena bagi saya ini namanya melayani anak.Bahkan ibu bercerita seringkali harus berputar-putar lebih dari tiga kali, hanya untuk menemukan anaknya tpat di gerbang sekolah. Inilah dialog saya dengan sang ibu.

Kenapa bu?
Jauhbu,jalannya’
Yakan memang itu tujuannya,supaya dia sedikit mengenal kerja keras
Parkir diskolah anak saya susah dia harus menyebrang jalan ramai.
Tidak apa bu biar dia belajar mencari solusi menembus keramaian kan butuh keberanian,nanti bias tertabrak bu.
Memangnya kalau tertabrak kenapa?
Kan bahaya bu.dia bias terluka dia bisa tidak selamat.
Bu,cukuplah dengan doa saja.apa ibu tidak yakin allah akan menjaga anak ibu?kalau ibu membatasi latihan kemandirian ini, ibu akan dapati masalahnya tidak akan selesai. Karena akar masalah anak ini adalah ketidaktegaan ibu bahkan jika anak ibu meninggal karena dia latihan menyebrangi jalan dia akan jadi ahli surge bu. Umurnya baru 10 tahun umur sudah ada ketetapannya ibu tidak siap anak ibu meninggal di umur 10 tahun? Anak kan hanya titipan Allah amanah bu.Dialog ini ditutup dengan sikap ibu yang tertunduk dalam diam.

Tantangan utama mendidik iman adalah keimanan orangtua yang belum beres.pada bagian sebelumnya pendidikan iman dimulai menumbuhkan cinta Allah melalui kisah dan dialog keimanan.maka selanjutnya kita perlu mengenalkan allah yang lebih konkret.

Para ulama banyak menjelaskan bahwa mengenalkan Allah pada anak dialkukan lewat dialog tentang pola-pola ciptaan Allah. Langit dan bumi yang Nampak luar biasa,matahari,bintang yang indah,tumbuhan hewan yang beraneka ragam,intinya tadbur alam. Anak yang sudah sampai pada pemahaman sbab akibat akan bias di ajak mengamati pola ala mini,pola luar biasa yang tentunya diciptakan oleh pencipta yang maha luar biasa,maha hebat,maha kuasa. 

Akan muncul berbagai pertanyaan kritis dan tentunya kita harus bersabar menjelaskan pola-pola ala mini dan mengaitkannya ,kembali kepada iman. Hanya orangtua yang imannya sudah kokoh akan melakukan dialog semacam ini dengan anak.

Kenapa matahari ini Cuma kelihatan waktu siang>?karena allah syang sama kita saat matahari tidak tampak dan itu namanya malam, itu waktunya kita beristirhat.dan lain sebagainya.selanjutnya kita perlu mempertontonkan pola pertolongan Allah pada anak.Tingkat kecerdasan anak yang sudah sampai pada pemahaman sebab akibat pada usia kira-kira 10 tahun.kita perlu menunjukan segala macam peristiwa harus dilihat dengan sudut pandang ‘ini kuasa Allah’
ORANGTUA YANG BELUM YAKIN KEPADA ALLAH. YANG LEBIH MENGANDALKAN LOGIKA DARIPADA SUARA HATI KEIMANANNYA, AKAN KESULITAN MELAKUKAN PENDIDIKAN KEIMANAN SEMACAM INI

Kadng kita cukup puas ,dengan pendidikan islam yang berkilau prestasi semacam  shalat tepat waktu shalat sunnah bahkan hafalan Al-Qurannya banyak.kita lupa menguatkan iman dalam hati yang tidak tampak itu.sekali lagi tantangan pendidikan keimanan adalah terjaganya keimanan kita sendiri sebagai orangtua.

Sekian dan terimakasih semoga tulisan ini bermanfaat

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Spiritual parenting Pesisme hambatan pendidikan aqidah"